artikelmediadakwah

Kisah Perjalanan Nabi Muhammad ﷺ Dari Awal Kelahiran Sampai Turun Wahyu Pertama

👶 Kisah Awal Kelahiran Rasulullah ﷺ

Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah peristiwa monumental yang terjadi di kota Mekah pada masa yang disebut sebagai Zaman Jahiliah (Kebodohan).

1. Wafatnya Sang Ayah

Ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muththalib, adalah putra kesayangan dari pemimpin suku Quraisy, Abdul Muththalib. Abdullah meninggal dunia sebelum Muhammad lahir, yaitu ketika Abdullah dalam perjalanan dagang dan singgah di Yatsrib (Madinah).

Oleh karena itu, Nabi Muhammad ﷺ sudah menjadi yatim sejak dalam kandungan ibunya.

2. Tahun Kelahiran yang Istimewa (Tahun Gajah)

Rasulullah ﷺ dilahirkan pada tahun yang sangat istimewa, yang kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah (sekitar tahun 570 Masehi).

Nama ini berasal dari peristiwa besar yang terjadi tepat sebelum kelahiran beliau, di mana pasukan besar yang dipimpin oleh Abraha dari Yaman datang ke Mekah dengan maksud untuk menghancurkan Ka’bah. Pasukan ini membawa gajah-gajah besar.

Namun, atas kehendak Allah SWT, pasukan tersebut dihancurkan oleh burung-burung yang membawa batu-batu panas (Ababil), sebagaimana yang diceritakan dalam Surah Al-Fil (Gajah) dalam Al-Qur’an. Peristiwa ini meningkatkan kehormatan Mekah di mata bangsa Arab.

3. Kelahiran

  • Tanggal dan Tempat: Muhammad lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah. Beliau lahir di rumah pamannya, Abu Thalib, di Mekah.
  • Sang Ibu: Ibunda beliau adalah Aminah binti Wahb.
  • Nama: Kakeknya, Abdul Muththalib, memberikan nama Muhammad yang berarti “orang yang terpuji” atau “orang yang sering dipuji“—sebuah nama yang tidak umum digunakan oleh orang Arab saat itu.

4. Masa Menyusui di Pedalaman

Sesuai tradisi bangsawan Mekah saat itu, bayi laki-laki dikirim ke pedalaman gurun untuk disusui dan dibesarkan selama beberapa tahun agar mendapatkan:

  • Udara yang lebih bersih dan tubuh yang kuat.
  • Bahasa Arab yang paling murni dan fasih.

Rasulullah ﷺ diserahkan kepada seorang wanita dari Bani Sa’ad bernama Halimah As-Sa’diyah. Halimah menyaksikan keberkahan yang luar biasa pada dirinya dan keluarganya sejak Muhammad kecil berada di bawah asuhannya.

5. Kembali ke Pangkuan Ibu

Setelah beberapa tahun, Muhammad kecil kembali ke Mekah untuk tinggal bersama ibunya, Aminah.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika Muhammad berusia sekitar $6$ tahun, Aminah mengajaknya berziarah ke makam suaminya, Abdullah, di Yatsrib. Dalam perjalanan pulang, Aminah wafat di suatu tempat bernama Abwa’.

Dengan wafatnya sang ibu, Muhammad ﷺ menjadi yatim piatu sepenuhnya di usia yang masih sangat muda.


Setelah menjadi yatim piatu, beliau kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib, dan setelah kakeknya wafat, beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib, hingga beliau dewasa.

🌙 Persiapan: Tahannuts di Gua Hira

  • Usia Nabi: Peristiwa ini terjadi saat Nabi Muhammad ﷺ telah mencapai usia $40$ tahun.
  • Aktivitas: Sebelum wahyu turun, Nabi Muhammad ﷺ memiliki kebiasaan untuk bertahannuts (menyendiri untuk beribadah, merenung, dan menjauhkan diri dari kesibukan dunia) selama beberapa hari atau bulan.
  • Tempat: Beliau memilih Gua Hira, sebuah celah kecil di puncak Jabal Nur (Gunung Cahaya), beberapa kilometer di utara Mekah.

⚡ Detik-Detik Turunnya Wahyu

Pada suatu malam di bulan Ramadhan (disebut juga malam Nuzulul Qur’an), saat Nabi sedang sendirian di dalam keheningan Gua Hira, terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan dan dramatis.

1. Kedatangan Jibril

  • Penampakan: Tiba-tiba, Malaikat Jibril ‘alaihis salam (yang berwujud sebagai sesosok lelaki) datang menemui beliau.
  • Perintah Pertama: Jibril berkata kepadanya, “Iqra’!” (Bacalah!).

2. Dialog Tiga Kali

Nabi Muhammad ﷺ, yang merupakan seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), terkejut dan menjawab:

  • Jawaban Nabi: “Ma ana bi qaari’!” (Aku tidak bisa membaca/bukan seorang pembaca!).

Malaikat Jibril kemudian merengkuh (memeluk) beliau dengan sangat erat hingga Rasulullah ﷺ merasa sangat kepayahan dan lemas, lalu melepaskannya. Jibril mengulang perintah tersebut sebanyak tiga kali dengan respons yang sama:

  1. Jibril: “Iqra’!”
  2. Nabi: “Ma ana bi qaari’!” (Dipeluk erat)
  3. Jibril: “Iqra’!”
  4. Nabi: “Ma ana bi qaari’!” (Dipeluk erat)
  5. Jibril: “Iqra’!”

Pada kali ketiga, Jibril tidak lagi menunggu jawaban, melainkan membacakan wahyu yang pertama dari Allah SWT.

3. Wahyu Pertama

Jibril membacakan lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq:

{اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ}

1. Iqra’ bismi Rabbikal-ladzī khalaq

(Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,)

{خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ}

2. Khalaqal-insāna min ‘alaq

(Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.)

{اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ}

3. Iqra’ wa Rabbukal-akram

(Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,)

{اَلَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ}

4. Al-ladzī ‘allama bil-qalam

(Yang mengajar (manusia) dengan pena.)

{عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ}

5. ‘Allamal-insāna mā lam ya‘lam

(Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.)

🏡 Reaksi dan Penguatan

  • Kepanikan Nabi: Setelah peristiwa itu, Nabi Muhammad ﷺ pulang dalam keadaan sangat ketakutan, menggigil, dan jantungnya berdebar kencang. Beliau segera menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid.
  • Permintaan: Beliau berkata, “Zammilūnī! Zammilūnī!” (Selimutilah aku! Selimutilah aku!). Khadijah segera menyelimuti beliau hingga rasa takutnya mereda.
  • Penghiburan Khadijah: Nabi ﷺ menceritakan seluruh pengalamannya. Khadijah menghiburnya dengan kata-kata penenang, memuji sifat-sifat mulia suaminya: “Demi Allah, Allah sekali-kali tidak akan menghinakanmu. Engkau selalu menyambung silaturahim, berkata jujur, menanggung beban orang lain, memuliakan tamu, dan menolong orang yang dalam kesulitan.”
  • Konfirmasi Waraqah: Khadijah kemudian membawa Nabi Muhammad ﷺ kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang yang beragama Nasrani dan mengetahui kitab-kitab suci. Setelah mendengar cerita tersebut, Waraqah berkata:”Ini adalah An-Nāmus (Malaikat Jibril) yang pernah diutus kepada Nabi Musa. Sungguh, engkau adalah Nabi umat ini! Seandainya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu, niscaya aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.”

Sejak saat itulah, Nabi Muhammad ﷺ secara resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul terakhir, dan Islam mulai diturunkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *