Fase ini adalah ujian terberat bagi umat Islam awal, di mana keimanan mereka diuji dengan penyiksaan fisik, pemboikotan ekonomi, dan kehilangan orang-orang tercinta.
1. Penindasan Kaum Quraisy
Begitu dakwah Islam mulai berkembang, para pemimpin Quraisy—yang merasa terancam dominasi sosial dan ekonomi mereka—mulai melakukan perlawanan.
- Penyiksaan Fisik: Kaum Quraisy menyiksa kaum Muslimin yang berasal dari kalangan budak atau yang tidak memiliki suku pelindung yang kuat:
- Bilal bin Rabah: Diikat dan dijemur di bawah terik matahari gurun sambil ditindih batu besar di dada. Ia hanya menjawab, “Ahad! Ahad!” (Allah Maha Esa!)
- Keluarga Yasir: Yasir dan istrinya, Sumayyah, serta putra mereka, Ammar, disiksa secara keji. Sumayyah menjadi syahidah (martir) pertama dalam Islam setelah ditombak oleh Abu Jahal. Nabi ﷺ pernah melewati mereka dan berseru, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian adalah surga.”
- Penghinaan dan Gangguan: Rasulullah ﷺ sendiri tidak luput dari gangguan. Beliau sering dilempari kotoran, batu, atau dicaci maki saat sedang salat di Ka’bah.
2. Hijrah Pertama demi Keimanan
Melihat penderitaan yang tak tertahankan, Nabi Muhammad ﷺ mengizinkan sebagian sahabatnya untuk hijrah ke negeri yang aman.
- Tujuan: Habasyah (Ethiopia), karena dipimpin oleh seorang raja Nasrani yang adil, yaitu Raja Negus.
- Peristiwa: Meskipun kaum Quraisy mengirim delegasi (dipimpin Amr bin Ash) untuk membujuk Raja Negus agar mengusir kaum Muslimin, Raja Negus menolak setelah mendengarkan penjelasan dari juru bicara Muslim, Ja’far bin Abi Thalib, mengenai ajaran Islam dan kisah Nabi Isa. Ini adalah bukti pertama keteguhan dan perlindungan Allah atas kaum Muslimin.
3. Pemboikotan Total (Tiga Tahun Kelaparan)
Ketika penyiksaan fisik tidak berhasil menghentikan Islam, kaum Quraisy melakukan tindakan yang lebih kejam: pemboikotan total terhadap seluruh Bani Hasyim dan Bani Muththalib (suku tempat Nabi berasal), baik yang Muslim maupun yang belum.
- Isi Perjanjian: Mereka menulis perjanjian yang digantung di Ka’bah, berisi larangan:
- Melakukan jual beli dengan Bani Hasyim.
- Melakukan pernikahan atau ikatan sosial apa pun.
- Berinteraksi atau berbicara dengan mereka.
- Kondisi: Selama tiga tahun (sekitar 617-620 M), Bani Hasyim terpaksa hidup di sebuah lembah terpencil di pinggiran Mekkah. Mereka mengalami kelaparan ekstrem hingga harus memakan dedaunan kering. Namun, penderitaan ini justru semakin menguatkan persatuan dan keteguhan iman mereka.
4. Tahun Kesedihan (Aamul Huzn)
Tahun ini (sekitar 620 M) menjadi pukulan batin yang sangat berat bagi Rasulullah ﷺ.
- Wafatnya Abu Thalib: Paman beliau, Abu Thalib, yang telah melindungi beliau dari serangan fisik Quraisy selama puluhan tahun, wafat. Dengan meninggalnya Abu Thalib, perlindungan suku yang kuat terhadap Nabi hilang.
- Wafatnya Khadijah: Hanya beberapa minggu kemudian, istri tercinta beliau, Khadijah binti Khuwailid, wafat. Khadijah adalah sandaran batin dan orang pertama yang menguatkan Nabi setelah wahyu pertama turun.
Kehilangan dua pelindung utama ini membuat Rasulullah ﷺ menjadi sasaran yang lebih mudah bagi Quraisy.
5. Penolakan di Tha’if
Karena kehilangan perlindungan di Mekkah, Nabi Muhammad ﷺ memutuskan untuk pergi ke Tha’if, sebuah kota di selatan Mekkah, mencari tempat berlindung dan berdakwah.
- Pengusiran: Alih-alih mendapatkan perlindungan, beliau justru diusir dan diserang oleh penduduk Tha’if. Mereka menghasut anak-anak dan budak untuk melempari beliau dengan batu hingga kaki beliau berdarah.
- Keteguhan Nabi: Saat Malaikat Jibril datang menawarkan diri untuk menghancurkan penduduk Tha’if dengan menjepit mereka di antara dua gunung, Rasulullah ﷺ menunjukkan belas kasih yang luar biasa dan menolak tawaran tersebut. Beliau berdoa:
“Bahkan, saya berharap Allah mengeluarkan dari sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
Keteguhan dan harapan beliau kepada masa depan, meskipun dalam penderitaan, menunjukkan kualitas kenabian beliau.
Masa-masa penderitaan ini adalah fondasi yang mengajarkan kesabaran (sabr), ketabahan, dan keyakinan mutlak kepada janji Allah. Puncak dari keteguhan ini adalah ketika Allah memberikan solusi dan jalan keluar berupa peristiwa Isra Mi’raj (sebagai penghiburan ilahi) dan kemudian perintah untuk Hijrah ke Madinah, yang menjadi titik balik kemenangan Islam.